Minggu, 14 Juli 2013

Perbedaan Keadaan Ekonomi yang Sakit Sakitan dari Pemerintahan Soekarno hingga SBY

Hai bro

Kali ini saya akan berbagi tentang Keadaan ekonomi Indonesia yang sakit-sakitan dari Pemerintahan Soekarno hingga pemerintahan SBY

Mohon baca dengan bijak & teliti thread ini. Pada tulisan ini saya gak bermaksud membela presiden A atau memojokan presiden B. Saya hanya akan menguraikan kondisi ekonomi negri tercinta ini dari era Sokarno - SBY.

Mungkin bagi beberapa agan-agan disini ada yang belum tahu, dan saya akan sedikit berbagi disini...

1. Soekarno

Tahun 1965 kondisi ekonomi Indonesia memburuk. APBN morat-marit.
Kesejahteraan masyarakatmemprihatinkan.
Laju inflasi waktu itu mencapai 650%. Artinya jika situasi itu terjadi sekarang, tiba-tiba harga beras yang Rp.8.000/ Kg akan menjadi Rp.52.000/Kg.
Untuk mengatasi krisis, pada bulan Desember 1965 Soekarno mengumumkan kebijakan devaluasi nilai rupiah, yaituRp. 1.000 uang lama menjadi Rp. 1 uang baru. Devaluasi zaman Soekarno tidaklah sama maksudnya dengan wacana redenominasi yang diwacanakan sekarang.

Devaluasi bukan saja nominal uang yang terpotong, tapi nilainya juga. Artinya kalau seseorang memiliki tabungan di bank 1 juta rupiah dan cukup untuk membeli seekor kambing.
Maka setelah devaluasi uang itu tinggal 1000 rupiah. Dan uang yang 1000 rupiah ini,
untuk membeli ayam saja tidak cukup.
Kekacauan menjadi-jadi. Rakyatmengamuk. Bank-bank tutup. Orang kaya tiba-tiba menjadi miskin, golongan menengah menjadi lebih miskin lagi, yang memang sudah miskin menjadi teramat miskin.
Di mana-mana orang depresi dan bunuh diri. Jangankan yang miskin, konglomeratpun bunuh diri. Bos Bank NISP yang sekarang, Karmaka Surjaudaja sebagai salah satu saksi hidup peristiwa ini sekaligus sebagai pelaku. Depresi kemudian mencoba bunuh diri karena kebijakan devaluasi
Soekarno. Minum racun tapi nyawanya masih bisa selamat.
Tidak cukup sampai di sana. Pada bulan Januari 1966 Soekarno mengumumkan kenaikan harga BBM. Sebelumnya, Soekarno sudah 11 kali menaikkan harga BBM. Semua bertujuan untuk menyehatkan fiskal dan menyelamatkan APBN.

Pemuda, pelajar, mahasiswa menggelar aksi besar-besaran. Mereka serentak mengempeskan ban-ban mobil di jalan-jalan seluruh Jakarta. Lalu lintas macet total. Mereka menyerbu Istana Presiden, kantor-kantor kementerian dan lainnya.

2. Soeharto

Orde lama pimpinan Soekarno tamat. Berganti Ode Baru pimpinan Soeharto. APBN tetap sakit-sakitan. Untuk menyehatkannya Soeharto sedikitnya sampai 18 kali menaikkan harga BBM.

Tidak cukup hanya menaikkan BBM. SDA Indonesia di lelang semurah-murahnya. Tambang emas, batu bara, minyak, dll.
Sampai-sampai Soeharto rela hanya mendapat bagian royalti 1% dari tambang emas Freeport. Asal investor mau mengerjakannya.

Naikkan BBM, lelang SDA tidak cukup. Soeharto melangkah lebih jauh lagi. Menumpuk hutang beribu-ribu triliun. Soeharto membuat Indonesia menjadi nasabah empuk bagi IMF, ADB, Bank Dunia, dll. 
Saat itu hutang Indonesia menumpuk sampai 65% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Bandingkan dengan sekarang. Hutang Indonesia hanya tinggal 24% dari PDB.
Pernah di saat masa-masa akhir Orde Baru, Indonesia mencari hutang luar negeri yang begitu besar. Tapi hutang tersebut hanya cukup untuk membayar hutang luar negeri berikut bunganya.
3. Megawati

Selanjutnya era Megawati(Pemerintahan BJ Habibie dan Gusdur kita lewatkan saja karena terlalu singkat).

Di era Megawati APBN tetap sakit-sakitan. Megawati sampai dua kali menaikkan BBM untuk menyehatkannya.
Tidakcukup juga hanya dengan menaikkan BBM. Megawati melelang apa yang bisa
dilelang.

Kekayaan alam seperti ladang gas Tangguh, dilelang ke China hanya denga harga USD 3/mmbtu yang seharusnya USD 16/mmbtu (kerugian negara ditaksir 30 triliun/tahun).

Aset-aset negara dilelang. Indosat dan kapal tanker, BCA, Bank Danamon, BII, dll
menjadi korban.

  4. SBY

Sekarang kita hidup pada zaman SBY.
Masih sama juga, APBN sakit-sakitan. Kemampuan fiskal pemerintah kembang kempis. Sampai 4 kali SBY menaikkan harga BBM untuk menyelamatkan APBN.

Ternyata masalah kenaikan BBM hanya masalah klasik yang berulang terus menerus sepanjang sejarah Indonesia. Bukan hal yang istimewa. Hanya saja dari fakta-fakta di atas. Nampak cara SBY jauh lebih baik dalam mengatasinya.
Kenaikan BBM tidak perlu ditambah dengan cara ‘merampas’ uang rakyatseperti kebijakan devaluasi ala Soekarno.

Tidak perlu menggadai kekayaan alam dan menambah hutang besar-besaran ala Soeharto.

Tidak perlu menggadai kekayaan alam dan melelang aset ala Megawati.

Dalam hal ini ternyata SBY-lah yang terbaik. Atau kalau keberatan mengatakan yang terbaik, taruhlah SBY bukan yang terburuk diantara presiden-presiden yang sebelumnya.
SBY juga sudah berhasil membuat perekonomian Indonesia lebih kuat. Lebih kuat dari zaman Soeharto apalagi zaman Soekarno.
Ekonomi yang dibangun Soekarno jelas-jelas gagal.
Ekonomi yang dibangun Soeharto ternyata rapuh. Podasinya tidak kuat, bertumpu pada hutang luar negeri dan segelintir konglomerat.

Hanya karena krisis ekonomi Asia 1997, ekonomi yang dibangun Soeharto ambruk. Sedangkan ekonomi yang dibangun SBY sangat kuat dan spektakuler. Dihantamkrisis dunia 2008 yang jauh lebih dahsyat dari krisis Asia 1997, masih bisa bertahan. Bukan saja bertahan tapi tetap tumbuh positif (hanya 3 negara di dunia ini yang berhasil menahan laju pertumbuhan ekonominya setelah krisis 2008, yaitu China, India dan Indonesia). 

Bahkan SBY berhasil membawa Indonesia menjadi negara anggota G-20. Yaitu 20 negara yang menguasai 90% perekonomian dunia.
Singapura dan Malaysia, jangankan masuk G-20, bermimpi saja mereka tidak berani.
Suasembada pangan Soeharto juga semu. Sistem pertanian, perkebunan, dan perikanan yang dibangun Soeharto lemah. Jauh dari standar industri. Maka Indonesia tidak pernah memiliki sawah modern. 
Meski makanan pokok rakyat indonesia adalah nasi. Indonesia tidak pernah memiliki perkebunan buah-buahan bersekala modern. 
Meski Indonesia merupakan negara tropis. Indonesia tidak pernah memiliki tambak garam canggih sekalipun, meski Indonesia memiliki garis pantai yang luar biasa panjang. Yang ada hanya perkebunan- perkebunan modern peninggalan Belanda. Perkebunan yang dibuat atas kepentingan Belanda. Perkebunan teh, karet, kopi, coklat dan sejenisnya.  
Di penghujung zaman SBY inilah kebutuhan rakyat Indonesia yang sebenarnya mulai diperhatikan. Sawah modern dicetak di Kalimantan. Kebun buah-buahan modern digalakkan. Peternakan sapi besar-besaran dengan metode modern mulai dirintis. Tambak garam dipermodern dengan gerakan
membranasi, dan lain-lain.

Apakah SBY presiden yang sudah ideal?

TIDAK!

Masih banyak kekurangan. Terlalu banyak sesuatu yang seharusnya dikerjakan tapi tidak dikerjakan. Pemerataan ekonomi masih menjadi masalah. Tapi saya hanya mengajak kita relistis, tidak tutup mata atas keberhasilan SBY. Tidak menghujat dan menghina SBY secara berlebihan. Seolah-olah SBY setan yang entah datangnya darimana.

Apalagi disaat bersamaan kita menyanjung presiden-presiden masa lalu yang seolah-olah jauh lebih berprestasi.

Sedangkan SBY tidak ada prestasi apa-apanya.

Setiap generasi hidup pada masanya sendiri. 
Soekarno misalnya. Terlihat hebat karena hidup pada zaman perang kemerdekaan. Belum tentu akan hebat jika dia memimpin pada masa sekarang.

Bayangkan, seandainya Soekarno menjadi presiden sekarang. Mungkin Indonesia sudah dibawa bangkrut, terkucil, dan terbelakang seperti Korea Utara dan Venezuela.

Atau sebaliknya. Seandainya SBY hidup pada masa perjuangan kemerdekaan. Mungkin Indonesia membutuhkan waktu yang lebih lama lagi untuk merdeka. Dengan sikapnya yang peragu, lamban, penuh pertimbangan, dan sopan santun tingkat tinggi. Akan menjadi kelemahan yang sangat fatal bagi Indonesia saat itu.

Begitu juga Soeharto. Jika dia menjadi presiden pada masa informasi dan teknologi seperti sekarang ini. Mungkin nasibnya akan sama dengan Presiden Tunisia, Mesir, Libya dan diktator-diktator lainnya. Atau paling tidak dia akan membuat Indonesia perang saudara seperti Presiden Suriah,

Bashar al-Assad.

Soekarno mungkin pemimpin terbaik pada zamannya. Begitu juga Soeharto. Silahkan pemimpin yang sekarang dikritisi tapi jangan dihina berlebihan.

Jangan seperti kelakuan sekumpulan “generasi sakit” yaitu para komentator di beberapa jejaring sosial yang hanya bisa mencemooh, menghina dan menghujat.

Biarlah orang tua menyanjung- nyanjung masa lalu. Mereka sudah tua, ingatan mereka lemah, wajar melupakan penderitaan.

Last, Kita generasi muda, hidup pada zaman online. Tidak boleh hanya sekedar mengandalkan ingatan.
Ingatan kadang menipu, ingatan kadang menjebak kita pada romantisme masa lalu.

Tugas kita mencari pemimpin masa depan, tidak baik hidup hanya diisi dongeng-dongeng
kemakmuran masa lalu. Yang sebenarnya hanya perasaan. Tak ubahnya seperti dongeng.

***
referensi: kasabikhtiyar

15 komentar:

Wahid Efendi mengatakan...

dibutuhkan presiden di masa depan yang bisa membaca situasi ekonomi dan memaksimalkan yang sudah ada dan menyehatkan moral anak buahnya..

Anonim mengatakan...

Resume yg lumayan bagus..saya sgt setuju..ayo menjadi rakyat yg baik, jgn hanya bisa menghujat tetapi bisa melakukan yg terbaik untuk negeri ini...

tofan hiday mengatakan...

Wach, ijin menyimak saja....heheheh :D

http://potretbikers.wordpress.com/2013/07/14/yamaha-force-telah-launching-di-surabaya/

Anonim mengatakan...

Salut ... atas kelengkapan referensinya juga analisisnya

walidin_wall mengatakan...

Siap dukung gan sesuai dengan isi artikelnya.

Riska Prastyawan mengatakan...

mantapp gan

Riska Prastyawan mengatakan...

makasih gan.:)

Riska Prastyawan mengatakan...

silahkan mas.:)

Riska Prastyawan mengatakan...

makasih gan

Riska Prastyawan mengatakan...

makasihh.:)

d00d1 mengatakan...

sederhana saja jika kita adalah rakyat ... apakah kita sudah mendoakan pemimpin kita kebaikan? atau justru keburukan? kemudian apakah kita sudah mensyukuri nikmat perjuangan pemimpin kita? atau justru merasa terdzolimi? doa adalah cerminan diri kita. rasa syukur adalah buat yang punya hati.

Anonim mengatakan...

sby mayan bagus,yang bikin ga bagus tuw bawahannya,babu2 ga tau diri,cuma isa korupsi,memanfaatkan pemimpin mereka yang tidak tegas

Riska Prastyawan mengatakan...

mantaaap gan

Riska Prastyawan mengatakan...

SBY sebenarnya juga bisa tegas lhoo, hehe

echolist mengatakan...

sebenernya bukan gak tegas sih, lha bikin kebijakan juga banyak yang nentang, terus piye kalau gitu ?
dan emang sih keputusannya lama, tapi itu buat yang terbaik menurutku :)